Dari jagong sarasehan budaya Keraton Jipang

Keraton Jipang, sebuah gerakan moral merawat ingatan sejarah yang bisa menjadi produk wisata budaya

Sejarah tentang keberadaan peristiwa peralihan pusat-pusat kekuasaan di tanah Jawa tak bisa lepas dari kejadian besar di Cepu ratusan tahun silam. Secara garis waktu yang ditarik dari jaman kerajaan Majapahit hingga jaman kerajaan Mataram Islam, Jipang turut memberikan warna usai pusat kekuasaan berpindah dari Mojokerto ke Demak. Keberadaan yang tak bisa diingkari untuk menjadi produk budaya yang berujung pada potensi wisata.

RUMAH yang terletak di jalan menuju Bandara Ngloram, Cepu pada siang hari, Minggu, 31 Juli 2022, terlihat ramai. Meja panjang diletakkan di pinggir jalan, dipenuhi keris yang berderet dari ujung ke ujung. Sebagian keris merupakan koleksi Wahyu Kanigoro, warga Pati yang ikut dalam acara jamasan dan pameran pusaka Keraton Jipang pada hari itu. Sebagian lagi milik warga yang ikut dalam acara yang menarik masyarakat penyuka keris untuk berkunjung. Sementara koleksi pusaka dan manuskrip milik Keraton Jipang disimpan di dalam rumah, diletakan dalam bufet kaca.

Di belakang meja berderet keris, berjajar kursi menghadap panggung kecil setinggi tak lebih setengah meter. Di rumah yang menjadi sekretariat Yayasan Keraton Djipang ini, acara jamasan dan pameran pusaka Keraton Jipang dibuka secara resmi oleh Camat Cepu, Budiman. Acara pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sarasehan budaya, menghadirkan Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum. yang saat ini memegang Ketua program studi S1 Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang. Selain Dr. Sukarjo Waluyo, sarasehan budaya juga menghadirkan Barik Barliyan Surowiyoto yang disebut-sebut memiliki garis keturunan dari Arya Penangsang, tokoh yang tercatat dalam lintasan sejarah keberadaan Jipang.

Bagi Barik Barliyan, keberadaan Keraton Jipang yang digagas sejak 2014 dan sudah disahkan secara hukum dengan nama Yayasan Keraton Djipang pada 2016 ini, bukan untuk menciptakan polemik keberadaan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa pada khususnya, atau di wilayah nusantara pada umumnya. Meski pro-kontra tak bisa dihindari, keberadaan Keraton Jipang baginya menjadi sebuah gerakan moral untuk merawat ingatan sejarah. Bahkan ingatan sejarah ini, bagi Sukarjo Waluyo bisa menjadi sebuah produk budaya yang khas dari Kabupaten Blora dengan potensi wisata yang menyertainya untuk ekonomi kerakyatan.

Soal kebenaran sejarah, Sukarjo Waluyo menyatakan, tinggal sudut pandang mana yang dipakai. "Apakah Jipang itu kerajaan atau kadipaten, tinggal siapa yang mengatakannya. Sudut pandang yang di sana (kelompok kontra) akan beda dengan sudut pandang yang di sini (yang pro). Yang pasti, terjadi kekosongan politik kekuasaan saat itu setelah Demak (surut), ada perebutan wilayah (kekuasaan) antara Jipang dan Pajang. Kita belajar dari patahan-patahan sejarah, bagaimana kita tetap solid (dalam kerangka ke-Indonesiaan)," kata penulis buku Arya Penangsang : Potret Pertarungan Sejarah Jawa Pesisir vs Jawa Pedalaman.

Periode kekosongan dominasi kekuasaan ini dicatat M.C. Ricklefs, profesor sejarah di Universitas Nasional Singapura, terjadi sekitar pertengahan abad XVI. Sebelum dominasi daerah pedalaman menegakkan kekuasaannya yang ditandai lahirnya Kerajaan Pajang dan diteruskan berdirinya Kerajaan Mataram yang menghasilkan dinasti Jawa modern, ada periode pertempuran yang sengit antara wilayah pantai dan daerah pedalaman. Meski demikian, catatan sejarah keberlangsungan Kerajaan Pajang menurut M.C. Ricklefs hanya berasal dari kisah-kisah kronik sejarah, dan tidak ada bukti-bukti yang sezaman yang lebih dapat dipercaya. Dalam babad-babad Jawa, seperti ditulis M.C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, berdirinya Kerajaan Mataram merupakan hadiah dari Kerajaan Pajang setelah berhasil membunuh Arya Penangsang dari Jipang, yang kemungkinan terjadi antara tahun 1540 hingga 1550-an. Dikisahkan dalam babad Jawa, seperti ditulis M.C. Ricklefs dalam bukunya tersebut, ada seseorang bernama Kyai Gedhe Pemanahan yang mendapat tugas dari Jaka Tingkir, penguasa Kerajaan Pajang, untuk membunuh Arya Penangsang. Jika berhasil akan mendapatkan bumi Mataram. Setelah membunuh Arya Penangsang, Jaka Tingkir sempat lupa dengan janjinya dan diingatkan oleh Sunan Kalijaga. Pada akhirnya, Pemanahan mendapatkan bumi Mataram, dan mendirikan kerajaannya di sana. Kelak, wilayah Blora menjadi bagian dari pemerintahan Kerajaan Mataram, sebelum menjadi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda. Sementara Kerajaan Mataram sendiri beranak-pinak menjadi 4 kerajaan di tanah Jawa: Kasunanan, Mangkunegaran, Kasultanan, dan Pakualaman.

Peristiwa peperangan antara pesisir dan pedalaman yang berakhir pada kekalahan dan kematian Arya Penangsang oleh Pemanahan ini kerap kali menjadi ingatan kolektif masyarakat turun temurun, sempat menimbulkan pro-kontra keberadaan Keraton Jipang saat muncul beberapa tahun silam. Mereka yang mengambil haluan mazhab Mataram (Pemanahan) akan menuding Jipang bukanlah kerajaan sehingga tidak layak menyandang sebutan keraton, sementara yang mengambil haluan mazhab fanatik daerahnya (Kabupaten Blora) akan bangga dengan keberadaan Keraton Jipang ini.

"Keraton Jipang ini adalah gerakan moral. Di komunitas kerajaan-kerajaan nusantara kita juga sudah mendapat pengakuan," kata Barik Barliyan.

Tentang keberadaan Keraton Jipang sebagai produk budaya yang bisa menjadi potensi wisata ini, Kushariyadi, Ketua Yayasan Keraton Djipang mengungkapkan, pihaknya telah mengurus hak-hak kekayaan intelektual untuk menginventarisasi hasil kreasi dari komunitasnya.

"Kami sedang mengurus HAKI untuk produk sejarah, juga produk yang lain seperti blangkon yang memiliki ciri khas tersendiri," katanya.

Lebih jelas wawancara dengan Kushariyadi mengenai produk-produk kekayaan Keraton Jipang dapat disimak dalam video di bawah.

Bagi Kushariyadi, pertentangan tentang kebenaran sejarah perlu diakhiri. Apalagi cap-cap buruk terhadap pelaku sejarahnya yang pernah melekat pada sosok Arya Penangsang. Faktanya, keberadaan Arya Penangsang sebagai aktor sejarah diakui ada, bukan tokoh khayalan dalam peristiwa fiktif. Tinggal generasi terkini dan mendatang yang perlu dirawat ingatan sejarahnya dengan produk-produk budaya. Apalagi ketika produk tersebut dapat menumbuhkan ekonomi kerakyatan dari sektor pariwisata yang bisa dijual ke mancanegara.

Penulis : Gatot Aribowo