Wringin Seto, aliran kepercayaan
dari Surakarta yang lestari di Blora

Memiliki penganut hingga 22 ribu orang yang tersebar hingga ke luar negeri, aliran penghayat kepercayaan Wringin Seto yang asal-usulnya dari Keraton Surakarta pada 1818 lestari di Puncak Sayuran di Desa Soko, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

KELUARGA BESAR Eusebius Eka Agus TB tengah berkumpul di bangunan kecil terbuka yang disebut dengan Banyu Mili. Bangunan ini sebagai tempat istirahat. Ada meja dan kursi yang diletakkan di tengah sebagai tempat hidangan makan dan minum. Bangunan ini terletak di depan bangunan utama yang disebut dengan Sasono Hangudi Sembah Raosing Gesang. Di depan bangunan-bangunan ini ada pelataran yang disebut dengan alun-alun. Di tempat-tempat inilah pusat dari pelestarian aliran penghayat kepercayaan Wringin Seto, selain pertapaan-pertapaan yang terletak di bawah yang dapat dijangkau melalui tangga dari lokasi bangunan-bangunan tersebut.


"Ini keluarga kami yang datang dari luar kota. Ada yang dari Yogyakarta, datang untuk berkunjung," kata Eusebius Eka Agus TB yang berdomisili di Wringin Seto. Ia merupakan salah satu dari penuntun penghayat kepercayaan ini selain Eka Distia yang masih saudaranya.

banyu-mili

Bangunan Banyu Mili sebagai tempat istirahat.

Penuntun diperlukan penghayat kepercayaan. Di pundak mereka, tuntunan dan amalan Wringin Seto dapat dilestarikan hingga kini. Inilah tantangan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa di manapun berada, termasuk Wringin Seto yang kini berpusat di Puncak Sayuran di Desa Soko, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora dengan menempati areal seluas puluhan hektar.


"Tak mudah untuk melestarikan aliran kepercayaan ini. Penuntun diperlukan, dan jangan sampai tidak diwariskan. Sebab bila tidak ada penuntun lagi maka akan hilang aliran penghayat kepercayaan tersebut," kata Eka Agus.


Masuk ke wilayah Kabupaten Blora pada awal dekade 1970-an, pembawa aliran yakni Eyang Koesoema Soeradiningrat Soewardi mendirikan padepokan Wringin Seto di Puncak Sayuran. Eyang Koesoema inilah yang menyebarkan aliran penghayat kepercayaan tersebut ke masyarakat umum.

eka-agus

Eusebius Eka Agus TB menunjukkan bekas batu yang disentuh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

"Sebelumnya aliran penghayat kepercayaan ini hanya disebarkan di lingkungan keraton Surakarta. Sifatnya masih ekslusif. Hanya orang-orang dalam keraton, seperti tabib, mpu, maupun penasehat yang menganutnya," sebut Eka Agus.


Aliran penghayat kepercayaan ini bermula dari Eyang Amiseno dan Eyang Amiluhur pada 1818 di lingkungan Keraton Surakarta. Lalu diteruskan oleh Eyang Amiharjo Amongpraja yang berputera Eyang Koesoema. Ketiganya hanya menyebarkannya di lingkungan keraton sebelum moksa di Gunung Lawu, Gunung Tidar, dan Gunung Merapi. Setelah diturunkan dan diwariskan ke Eyang Koesoema, aliran penghayat kepercayaan ini mulai disebarkan ke masyarakat luar keraton. Belakangan lalu dibawa Eyang Koesoema ke wilayah Blora. Eyang Koesoema sendiri yang wafat di dekade tahun 2000-an dimakamkan di Puncak Sayuran, berjarak tak kurang satu kilometer naik dari pusat padepokan.


Makam Eyang Koesoema menempati areal paling atas. Untuk menjangkau makam perlu melalui jalanan menanjak yang terjal penuh bebatuan. Selain bangunan tempat makam berada, ada bangunan rumah tempat penjaga. Ada Tugu Pancasila saat masuk ke areal makam. Mendekat ke makam, tiang bendera berdiameter cukup lebar dengan tinggi 18 meter berdiri tegak. Tiang bendera ini disebut dengan Tugu Garuda Gung. Untuk proporsionalnya, bendera yang dikibarkan setidaknya berukuran 7 x 5 meter.


Ada empat pintu dari 4 penjuru mata angin di bangunan makam. Di sampingnya ada Gedung Pusaka yang berbentuk bundar dengan diameter tak lebih 2 meter. Tak jauh dari gedung tersebut terdapat makam-makam para pengikut Eyang Koesoema. Makam ada yang telah ditempati, ada juga yang belum.

"Yang telah wafat akan ada patoknya," kata Eka Agus sambil menunjuk patok bundar berwana kuning setinggi hampir semeter.


Makam sengaja disiapkan karena bebatuan, bukan tanah. Untuk menggalinya butuh waktu yang lama, bisa sebulan lebih. Karena itu perlu disiapkan terlebih dulu sehingga bila ada yang wafat langsung bisa dimakamkan. Ada setidaknya 3 makam yang telah berpatok. Sementara yang belum, disiapkan untuk pengikut yang lain termasuk Eka Agus.


Pengikut aliran penghayat kepercayaan ini jumlahnya disebutkan Eka Agus mencapai lebih 22 ribu orang, tak hanya tersebar di seluruh Indonesia tapi juga ada yang di luar negeri. Di Blora sendiri disebut-sebut ada 5 ribuan pengikut. Kebanyakan mereka, baik yang ada di Blora maupun luar kota bahkan di luar negeri akan berkumpul saat pertengahan bulan Sura atau di hari Sabtu yang berdekatan dengan hari itu. Di hari ini akan ada acara syukuran atau slametan, dirangkai dengan karnaval yang diikuti masyarakat sekitar.

Pintu gerbang Wringin Seto yang terletak di bawah berjarak tak kurang 500-an meter dari bangunan utama.

Pintu gerbang Wringin Seto yang terletak di bawah berjarak tak kurang 500-an meter dari bangunan utama.

"Tiap tahun di tanggal 15 Jawa," kata Eka Agus merujuk pada pertengahan bulan Sura di Tahun Jawa, "akan ada acara syukuran atau slametan. Harinya akan kita ambil hari Sabtu bertepatan libur, yang berdekatan dengan tanggal tersebut. Bisa sebelum tanggal 15 Jawa atau setelahnya. Pergelaran akan jadi tontonan masyarakat, ada seninya. Terkadang wayang kulit, terkadang pula barongan. Lalu dirangkaikan dengan karnaval, start dari pelataran depan bangunan utama, menuruni jalan menuju pintu gerbang pertapaan, masuk ke pertapaan menuju Sanggar Agung."


Sanggar Agung merupakan salah satu dari beberapa tempat laku pati geni para pengikut aliran. Laku ini dijalani saat buka dan tutup Sura. Laku ini kalau dijalani penuh lamanya 3 hari. Namun penuntun tidak memaksa pengikut untuk menjalaninya selama 3 hari. "Sesuai dengan kemampuan," ujar Eka Agus.


Tempat laku pati geni lainnya adalah Sanggar Melok dan Gua Surya Brata. Sementara pengikut lainnya yang menunggui akan berdiam di parenan yang letaknya di depan Sanggar Agung dan Gua Surya Brata.

Lelaku ini tidak untuk diri sendiri. "Tapi doanya sifatnya universal. Untuk bangsa dan negara, bahkan untuk dunia. Berdoa untuk kedamaian dan keharmonisan," kata Eka Agus.


Untuk lelaku ini penuntun akan mengarahkan yang mengerjakan laku untuk menempati salah satu dari tiga tempat laku pati geni. Jika bertempat di Gua Surya Brata pengikut akan masuk ke goa yang pintu masuknya ada di dinding bebatuan.


Dinding bebatuan setinggi tak kurang 3 meteran ini memisahkan bangunan dan alun-alun yang terletak di dataran atasnya. Alun-alun tersebut tidaklah luas, seluas tak lebih 50 meter persegi. Bangunan utama yang disebut dengan Sasono Hangudi Sembah Raosing Gesang menjadi tempat atau rumah belajar manembah rasanya hidup menuju Tuhan yang Maha Esa. "Jadi lebih menekankan pada rasa," sebut Eka Agus.


Dari bangunan utama yang juga jadi rumah tinggal Eka Agus dan keluarganya, karnaval 15 Jawa dilepas menuruni jalan yang dinamakan Jalan Merdeka. Lalu turun ke Jalan Damai tempat pintu utama pertapaan terletak. Di pertapaan tersebut, terdapat Sanggar Melok, lalu naik ada Sanggar Agung.


"Di Sanggar Agung, karnaval akan berakhir dengan doa lengkap dari 7 agama dan kepercayaan yang diakui negara. Yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghucu, dan aliran kepercayaan," kata Eka Agus.


Keunikan lain dari padepokan ini adalah nama-nama jalannya. Selain Jalan Merdeka dan Jalan Damai, terdapat juga Jalan Setya Hati yang merupakan jalan pertama masuk ke padepokan. "Filosofinya, perlu melalui kesetiaan hati terlebih dulu sebelum sampai pada kedamaian. Jika sudah mampu melampaui itu semua akan ketemu yang namanya kemerdekaan," pungkas Eka Agus. ***