Mengenal ajaran Samin di Desa Klopoduwur, Blora

Sami-sami, pitu, lan sanga

Dengan luas 9 x 9 meter dan ketinggian tiang 7 meter, padepokan Sedulur Sikep (Samin) di Desa Kelopo Duwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, memiliki ajaran dan makna yang dalam. Inilah padepokan yang paling ramai didatangi orang tiap Selasa Kliwon.

TAK sedikit orang asli Blora yang tidak tahu keberadaan padepokan ini. Selentingan, mungkin banyak yang telah mendengar yang namanya padepokan Suku Samin. Padahal, bagi penduduk Desa Kelopo Duwur, "Tak ada yang namanya suku itu. Adanya ya Suku Jawa. Samin itu bukan suku. Melainkan ajaran. Samin, berasal dari kata: sami-sami (sama-sama). Yang artinya, kita manusia sama saja. Sehingga tak ada jarak antara yang punya jabatan atau tidak. Tak ada pertentangan ras maupun agama. Karena kita sama, sebagai manusia," kata Lasiyo, 53 tahun, yang mendaku memiliki garis keturunan langsung dengan penyebar ajaran Sedulur Sikep Samin.


Untuk mencapai padepokan ini, rombongan kami sempat kebingungan dengan pintu gerbang mana yang menuju ke padepokan. Tak kurang ada 3 pintu gerbang di sisi kanan jalan dari arah Kota Blora, begitu memasuki Desa Kelopo Duwur. Termasuk pintu gerbang yang mengarah ke pemakanan.


"Beberapa waktu lalu, saat ada perkemahan di sini, ada yang salah masuk pintu gerbang. Mereka masuk ke pintu gerbang yang mengarah ke pemakaman," cerita Lasiyo.


Desa Kelopo Duwur terletak di jalan Blora-Randublatung. Jalan di desa ini termasuk yang paling mendapat perhatian pemerintah. Mulus, dengan aspal goreng. Bahkan, begitu masuk masing-masing pintu gerbang, jalannya sudah paving block. Jalan ini termasuk kategori jalan dusun, atau jalan lingkungan di kelurahan.


Gerbang yang menuju ke padepokan adalah gerbang paling selatan, yang sudah lepas dari daerah pemukiman penduduk di pinggir jalan. Bentuk gerbang ini unik. Lebarnya tak lebih lebar dari bodi Kijang Innova. Tingginya tak kurang dari 7 meter. Arsitektur atasnya cukup kas.

lasiyo

Mbah Lasiyo, penyebar ajaran Sedulur Sikep Samin di Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Blora.

"Jalan, pintu gerbang, dan bangunan padepokan ini mulai dibangun 2010. Bulannya saya lupa. Pastinya, bangunan ini jadinya 6 hari sebelum puasa tahun lalu. Harinya Sabtu pahing," kata Lasiyo.


Setahun sebelumnya, cerita Lasiyo, ada pejabat dari Semarang yang berkunjung ke desa ini. Pejabat itu dari kehutanan. Datang ke Kelopo Duwur mencari garis keturunan dari penyebar ajaran Sedulur Sikep (Samin).


"Lalu menawarkan ke kami untuk dibangun padepokan. Lalu turunlah dana, yang katanya milyaran untuk membangun semua ini," kata Lasiyo.


Area padepokan itu berdiri di atas tanah seluas tak kurang 25 x 16 meter. Sementara lantai bangunan padepokan seluas 10 x 10 meter, dengan 3 pijakan tangga menuju lantai. Luas bangunan kayu 9 x 9 meter, dengan ketinggian tiang seharusnya 7 meter.


"Tapi ini yang dipasang cuma 5 meter. Jadi ada dua meter yang tak tahu mengapa dihilangkan," datar suara Lasiyo.


Ketinggian 7 meter ada makna tersendiri dalam ajaran-ajaran Sedulur Sikep. Tujuh, dalam bahasa Jawanya disebut "pitu".

pendapa

Pendopo Sedulur Sikep Samin yang menjadi pusat penyebaran ajaran.


"Ada makna pitutur (nasehat kebaikan), maupun pitulungan (pertolongan, sikap tolong menolong)," kata Lasiyo.


Sementara 9, dalam ajaran Sedulur Sikep yang dilestarikan Lasiyo bermakna persaudaraan luas, bahkan universal. Karenanya, begitu rombongan kami berjumpa dengannya, Lasiyo menyapa kami dengan, "sedulur saking pundi (saudara dari mana)."


Sikap persaudaraan sesama bangsa inilah yang menjadi kebaikan dan kearifan lokal yang Lasiyo pelihara sampai sekarang. Sebagaimana makna 9 x 9 di bangunan kayu padepokan itu.


"Sembilan adalah 8 saudara dan 1 diri kita sendiri. Delapan saudara adalah 4 saudara yang ada di barat, timur, selatan dan utara (sesuai arah mata angin). Dua saudara berikutnya, yang terawat (kebaikannya) dan tak terawat (kebaikannya), dan dua saudara lagi adalah kakang kawah dan adik ari-ari," tutur Lasiyo.

kumpulan

Sedulur Sikep Samin Karangpace Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo menggelar tasyakuran dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila pada 2018.

Kakang kawah adalah makna kelahiran yang mendahului si jabang bayi. Sementara adik ari-ari adalah segumpal daging yang menyatu dengan jabang bayi melalui pusar. Adik ari-ari ini, dalam adat Jawa diritual dengan cara dipendam di depan rumah, dikurung, dan diberi penerangan sekedarnya. Sementara dalam adat Cina, biasanya dilarung.


Bangunan kayu di padepokan ini sebetulnya mirip pendopo. Ada 4 tiang di tengah. Jarak antara tiang luar dan dalam, 3 meter. Sementara pintu masuk ada 3: di utara, timur, dan selatan. Terdapat spanduk bertuliskan: Sedulur Sikep (Samin) Desa Kelopo Duwur Kecamatan Banjarejo-Blora. Di bawah spanduk ada pigura bertuliskan, "Sangkan Paraning Dumadi".


"Kalau kentongan itu," kata Lasiyo sambil menunjuk kentongan yang terletak di selatan sisi luar pendopo, "dinamakan kalung rojo koyo. Maknanya adalah untuk memanggil lembu-lembu yang di-angon ketika petang menjelang."


Kentongan itu digantung di dua tiang yang memiliki tinggi sekitar 5 meteran, lebar sekira 2 meter. Berat kentongan yang digantung tak kurang 10 kilogram. Semuanya terbuat dari kayu jati.

kumpulan-bupati

Bupati Blora H. Djoko Nugroho saat menghadiri acara Telasan Suran (tutup suran) yang digelar Sedulur Sikep Samin di Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora pada 2018.

Pendopo padepokan ini kerap dijadikan tempat mengobrol. Bila orang-orang yang datang jumlahnya tak seberapa, duduk melingkar diatas karpet lalu berbincang dengan hangat.


Yang ramai mendapat kunjungan adalah pada hari Selasa Kliwon. Tamu yang datang tak hanya dari dalam kota Blora, tapi juga berbagai kota. Ada yang dari Rembang, Pati, Tuban, dan Bojonegoro. Mereka datang untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan mengingat kembali ajaran-ajaran Sedulur Sikep.


"Sikep sendiri, artinya sikap. Bisa diterjemahkan sikap persaudaraan yang setara," ujar Lasiyo.


Ada keunikan ajaran dan sikap yang mungkin tak umum di jaman sekarang ini, yang masih dipelihara oleh Lasiyo. Adalah sikap tak mau meminta.


Sikap ini ditunjukkan Lasiyo ketika didesak warga untuk menempatkan kotak sumbangan di pendopo padepokan. Kotak sumbangan ini dimaksudkan warga untuk biaya pemeliharaan dan biaya suguhan buat tamu. Maklumlah, tamu yang berdatangan bisa tiap hari. Ada yang bertujuan untuk sekedar mendengar cerita langsung soal sejarah ajaran Sedulur Sikep (Samin), tak sedikit yang sekedar ingin wening (menyepi, jauh dari keramaian).


Sedangkan suguhan yang dihidangkan: mulai minuman kopi, teh, sampai hidangan gorengan. Sementara biaya pemeliharaan akan digunakan untuk membayar tagihan listrik, yang pernah 3 kali nunggak dan hampir disegel PLN. Padahal, Lasiyo dan warga sekitar bukanlah mereka yang memiliki kemampuan ekonomi berlebih. Malahan bisa disebut masih kekurangan.


"Lha kalau saya menempatkan kotak sumbangan kan berarti saya meminta. Berarti ini menyalahi ajaran. Itu yang saya tidak mau," pungkas Lasiyo. (*)